Beranda > tenun ikat > Tenun Ikat Dayak Sintang Kalbar

Tenun Ikat Dayak Sintang Kalbar


tenun ikat bulir padi merah putih

KITA mengenal begitu banyak ragam tenun di Indonesia, namun ada kain tenun yang sudah mulai langka di temukan di nusantara ini. Adalah kain tenun ikat dari Suku Dayak di Kalimantan (Borneo), kain tenun ikat tersebut, termasuk tenun ikat Dayak yang banyak digemari masyarakat manca negara.

Di Kalimantan Barat (West Borneo) saja misalnya, kain tenun ikat Dayak hanya ditemukan di Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu lagi. Padahal dulunya kain tenun ikat Dayak ini hampir dikenal masyarakat di seluruh Kalbar. Pada masa lalu, usai berladang, kala santai, menenun menjadi salah satu kegiatan yang dapat membunuh rasa bosan serta menghasilkan uang. Sehingga, banyak kaum wanita Dayak yang melakukannya. Mereka juga belajar secara autodidak.

setelan dari tenun ikat dayak-sintang

Suku Dayak menggunakan gedok sebagai sarana mereka untuk menenun. Satu bulan merupakan waktu yang biasanya mereka butuhkan untuk menyelesaikan selembar kain tenun. Namun, jika dilakukan secara insentif, cukup hanya dua minggu.  Seperti kain tenun lainnya, tenun ikat Dayak butuh waktu pengerjaan yang cukup lama. Mulai pemintalan benang pewarnaan, memasukkannya satu per satu ke alat yang dinamakan gedo, sampai dengan pencipta motif. Namun, proses panjang tesebut membuahkan hasil yang memuaskan pula. Tenun ikat suku Dayak mampu menembus pasar Eropa. Harga yang terbilang cukup murah, sekitar Rp.750.000 semakin memanjakan penggemarnya. Tapi sangat disayangkan, keberadaannya kini kian langka. Agar tetap ada, tugas wanita muda Dayaklah untuk mempertahankan tenun ikat Dayak tersebut agar tetap ada.

Sementara untuk pasaran lokal harga tenun ikat ini bervariasi mulai dari Rp 25.000 sampai seratus ribuan, tergantung besar dan tingkat kerumitan pengerjaannya. misalnya scraf dan selendang dapat dibeli dengan harga yang relatif murah kengan kualitas bagus.

tenun ikat motif reftil

memiliki kain tenun ikat dayak mempunyai kebanggan tersendiri, yaitu kita turut berpartisipasi mempertahankan warisan budaya yang hampir punah. Disamping itu orang yang memakainya terkesan elegan dan berkelas. Dari sekian banyak hal yang menarik dari kain tenun ikat ini adalh proses pewarnaannya dengan menggunakan bahan alami. Jadi tenun ikat benar-benar dibuat dengan tangan dan melalui proses alami dengan mencampur bahan alam kedalamnya. Adapun proses

Pewarnaan

proses pewarnaan

I. Proses Perminyakan (Mordan)
A. Bahan Ngaos
1. Benang
2. Buah Kepayang,
3. Buah gaus,
4. Buah Tengka,
5. Buah Kelampai
6. Buah Kemiri (bisa untuk ganti kenuling)
7. Biji mentimun
8. Buah Kenuling
9. Biji labu
10. Kunyit
11. Keramas (air daging buah kelapa yang dibusukkan)
12. Minyak ikan (semua bisa)
13. Minyak Biawak
14. Minyak ayam.
15. Minyak Labi-labi

Catatan :
Jika menggunankan minyak  ular harus mampu  menjaganya sampai sehari semalan tidak tidur, kalau tidak mampu bisa membuat kita sakit dan ahkan meninggal dunia (matah ke semengat). Untuk jenis minyak ikan, sawak,biawak,ayam da n labi-labi tidak boleh digongseng dan dimasukkan ke dalam botol dan dicampur dengan garam sedikit serta harus ditutup dengan rapat supaya tidak dihinggapi lalat dan ulat. Untuk bahan  minyak makin lamadisimpan makin baik digunakan.

B. Cara Ngaos
Sebelum benang dingaos harus dinasi (diolesi dengan nasi yang ditumbuk halus dengan tujuan untuk membuka serat  benang). Benang yang sudah diuluayan disusun kembali dan diterikkan pada tiang  untuk memoleskan nasi yang sudah ditumbuk dihaluskan. Setelah benang diolesi dengan nasi, pertama dikikis dengan  parang (gunakan bagian yang tumpul), setelah itu baru  dikikis kembali dengan menggunakan sabut kelapa sampai tidak ada gumpalan-gumpalan nasi pada benang dan kemudian dibiarkan satu hari satu malam (sampai kering benar).
Setelah proses nasi selesai dilanjutkan dengan perendaman benang pada air abu dapur  yang sudah disaring selama semalam.

proses pewarnaan

Bahan yang berasal dari biji-bijian / buah-buahan harus ditumbuk sampai  halus (dipisah masing-masing jenis). Setelah semua dihaluskan baru dimasak bersama-sama (dicampur). Pada saat pencampuran harus rata dan minyak-minyak tadi harus hancur. Air yang ditambahkan tidak boleh terlalu banyak. Oleh sebab itu air keramas harus banyak dan harus mampu merendam jumlah benang yang dingaos.

Setelah semua jenis minyak ikan hancur, harus didingikan dulu , supaya  lebih enak pada saat menginjakkya (mengaduknya). Pada saat ngaos harus ada yang berpakain adat (ngantak) dan tidak boleh lupa adalah bunga sebagai simbol kehidupan manusia.  Pada saat menunggu benang yang sudah dingaos biasany dilakukan dengan cara bekanduk (cerita rakyat) dan Bekana.
Setelah benang direndam sehari semalam benang diangkat,benang diangkat. Pada siang hari benag harus ditaruh dirumah dan jangan lupa siput laki, bekicot tebelian , kencur, bulu landak  dan kunyit.  Saat  malam hari benang dibawa dariluar rumah  untuk diembunkan. Pada saat pagi hari sekita jam . 05 pagi. Setelah tiga  hari baru dibawa  ke sungai untuk dicuci, kemudian baru bisa dicuci  lagi ke sungai,  waktu penjemuran antar jam 20.00 – 05 .00. orang jaman dahulu selama bertahun-tahun disimpa dan tidak ada satupun yang ganggu. Supaya benang tidak dimakan oleh binatang,  buah tengka  dan kepayang harus sedikit lebih banyak  sebab mengandung racun.

II. Proses Pewarnaan Merah (Mengkudu)
Cara Dingin
A. Bahan

1. Benang yang sudah dingaos

tenun ikat dengan warna merah dan hitam

2. Kulit Akar mengkudu
3. Daun Emarik Gugur
4. Air

B. Proses Celup
1. Kulit akar mengkudu ditumbuk sampai halus.
2. Masukkan ke dalam ember yang sudah berisi air, diremas-remas ampasnya dan kemudian
ditumbuk  lagi (ini dapat diulang sampai tiga kali, setelah selesai ampasnya dibuang).
4. Tumbuk daun emarik sampai halus.
5. Masukkan serbuk daun emarik ke dalam ember yang telah berisi air perasan mengkudu, dan  diaduk sampai rata.
6. Benang yang sudah dingaos dimasukkan kedalam campuran tadi, diremas-remas dan dikucek-
kucek sampai merata ke dalam benang.
7. Direndam selama 24 jam (1 hari), kemudian dibalik dan diremdam lagi selama 24 jam lagi.
8. Benang diangkat dan dijemur sampai kering, sisa celup dibuang karena tidak mengandung warna  lagi.
9. Kalau warna masih kurang baik dapat dilulagi lagi sesuai dengan cara di atas sampai dapat
warna yang diinginkan.

Cara Panas

A.  Bahan
1. Benang yang sudah digaos
2. Kulit Akar Mengkudu kering atau basah
3. Kulit Jangau
4. Kapur sirih
5. Daun Gambir

B. Proses Pewarnaan.
1. Bersihkan dan Kupas  kulit akar mengkud dan kulit jangau.
2. Jemur sampai kering dan kemudian ditumbuk halus.
3. Siapkan air panas mendidih secukupnya.
4. Campur serbuk mengkudu dan jangau dengan perbandingan 3 genggam mengkudu: 1
genggam jangau : 3  gayung air  panas untuk 1 buah ukuran kumbu.
5. Setelah itu masukkan benang yang sudah digaos ke dalam larutan tadi  (dibolak-balik)sampai  rata.
6. Jemur campuran tadi pada panas  matahari sampai air  kering (pada malam hari diangkat,  dan
pada hari berikutnyanya dijemur lagi).
7. Pengulangan proses di atas biasanya dilakukan 3-5 kali sampai mendapatkan warna merah yang bagus.

catatan :
Kalau kulit mengkudu  basah harus lebih banyak

III. WARNA HITAM (TARUM)

tenun ikat hitam dengan kombinasi marun

A. Bahan
1. Daun tarum tua
2. Kapur sirih
3. Benang  ukuran 1 kumbu  yang sudah dimengkudu  (warna merah )

B. Proses:
1. Daun tarum masak sampai air keluar asap (sebelum mendidih) sampai  daun bewarna hitam
atau biru, baru diangkat
2. Daun tarum  dicampur dengan sedikit kapur lalu digosok-gosok sampai warna air menjadi hitam.
3. Masukkan benang ke dalam air berulang-ulang sampai mendapatkan warna yang baik
(biasanya sampai tujuh kali ulangan).

Bahan :
1. Benang yang sudah dingaos
2. Kunyit
3. Kulit kayu gandis
4. Air

Proses
1. Haluskan kunyit dengan cara diparut atau  ditumbuk
2. Iris kulit kayu gandis setipis mungkin
3. Masukkan kunyit dan kulit kayu gandis yang  sudah dihaluskan ke dalam panci yang
sudah  berisi air, kemudian diaduk dan masak sampai  mendidih.
4. Setelah masak masukkan benang dan biarkan  mendidih sekitar 20 menit
5. Angkat dan jemur benang.

Nah setelah mengenal tenun ikat dayak sintang anda dapat menilainya sendiri. cukup menarik dan unik bukan?…..anda tertarik…..silakan berbelanja, gak perlu mahal anda sudah dapat memiliki salah satu keunikan dari tenun ikat seperti di atas…….

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: