Mandau, Senjata Khas Dayak

September 20, 2010 Tinggalkan komentar

mandau kapuashulu

Pada jaman dulu jika terjadi peperangan, suku Dayak pada umumnya menggunakan senjata khas mereka, yaitu mandau. Mandau merupakan sebuah pusaka yang secara turun-temurun yang digunakan oleh suku Dayak dan diaanggap sebagai sebuah benda keramat. Selain digunakan pada saat peperangan mandau juga biasanya dipakai untuk menemani mereka dalam melakukan kegiatan keseharian mereka, seperti menebas atau memotong daging, tumbuh-tumbuhan, atau benda-benda lainnya yang perlu untuk di potong.

mandau Sintang_Melawi

Biasanya orang awam akan sering kebingungan antara mandau dan ambang. Orang awam atau orang yang tidak terbiasa melihat atau pun memegang mandau akan sulit untuk membedakan antara mandau dengan ambang karena jika dilihat secara sekilas keduanya hampir sama. Tetapi, keduanya sangatlah berbeda. Namun jika kita melihatnya dengan lebih detail maka akan terlihat perbedaan yang sangat mencolok, yaitu pada mandau terdapat ukiran atau bertatahkan emas, tembaga, atau perak dan mandau lebih kuat serta lentur, karena mandau terbuat dari batu gunung yang mengandung besi dan diolah oleh seorang ahli. Sedangkan ambang hanya terbuat dari besi biasa, seperti besu per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan atau batang besi lain.

Mandau atau Ambang Birang Bitang Pono Ajun Kajau harus disimpan dan dirawat dengan baik ditempat khusus untuk penghormatan. Karena suku Dayak yakin bahwa mandau memiliki kekuatan spiritual yang mampu melindungi pemiliknya dari serangan atau niat jahat dari lawan-lawannya. Dan mandau juga diyakini dijaga oleh seorang perempuan, dan jika pemilik mandau tersebut bermimpi bertemu dengan perempuan yang menghuni mandau, berarti sang pemilik akan mendapatkan rejeki.

mandau bengkayang

Mandau selain dibuat dari besi batuan gunung lalu diukir, pulang atau hulu mandau (tempat untuk memegang) dibuat berukiran dengan menggunakan tanduk kerbau untuk yang pulang-nya berwarna hitam. Dan menggunakan tanduk rusa untuk pulang yang berwarna putih. Pembuatan pulang dapat juga menggunakan kayu kayamihing. Pada bagian ujung dari pulang diberi atau ditaruh bulu binatang atau rambut manusia. Untuk dapat melengkatkan sebuah mandau dengan pulang dapat menggunakan getah kayu sambun yang terbukti sangat kuat kerekatannya.Setelah itu kemudian diikat lagi dengan jangang, namun jika jangang sulit ditemukan dapat menggunakan uei (anyaman rotan).Besi mantikei yang digunakan untuk bahan baku pembuatan mandau dapat ditemukan didaerah Kerang Gambir, sungai Karo Jangkang, sungai Mantikei anak sungai Samba simpangan sungai Katingan, dan desa Tumbang Atei.

mandau singkawang

Tidak lengkap kiranya jika mandau tidak memiliki kumpang. Kumpang ialah sebutan sarung untuk mandau, kumpang mandau merupakan tampat masuknya mata mandau biasanya dilapisi tanduk rusa. Pada kumpang mandau diberi tempuser undang, yaitu ikatan yang terbuat dari anyaman uei (rotan). Pada bagian depan kumpang dibuat sebuah sarung kecil tempat menyimpan langgei puai. Langgei puai adalah sejenis pisau kecil sebagai pelengkap mandau. Tangkainya panjang sekitar 20 cm dari mata anggei, bentuknya lebih kecil dari pada tangkainya. Fungsi dari langgei puai adalah untuk menghaluskan atau membersihkan benda-benda, contohnya rotan. Sarung atau kumpang langgei selalu melekat pada kumpang mandau. Sehingga dapat dikatakan bahwa antara mandau dan langgei puai adalah sebuah kesatuan yang tidak dapat terpisahkan.

anda tertarik? pesan gan…..tapi jangan digunakan untuk kejahatan bro…..heheheee

Sumber: http://betang.com/

Menghidupkan Kembali Tenun Ikat Dayak di Sintang

September 19, 2010 Tinggalkan komentar

menenun

Pada waktu yang lampau menenun menjadi kuwajiban bagi setiap perempuan dari Suku Dayak. Hal ini dilakukan sebagai tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan akan pakaian serta keperluan adat istiadat. Namun dengan perkembangan zaman dan teknologi maka kegiatan menenun manjadi sesuatu yang langka dan tidak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat. Bagi sebagian kecil ibu-ibu, menenun  dilaksanakan untuk mengisi waktu luang disela-sela kesibukan kegiatan pertanian, sehingga untuk menghasilkan kain memerlukan cukup banyak waktu.

Di pahami bahwa seni budaya menenun merupakan kebudayaan yang diwariskan oleh generasi terdahulu yang mempunyai keunikan, nilai seni dan sejarah yang tinggi. Tahapan untuk menghasilkan sebuah karya kain tenun ikat dimulai dari penanaman kapas, pembuatan benang/memintal, ngaos (peminyakan benang), mewarna/mencelup, mengikat motif, menenun dan menjadikan pakaian adat merupakan rangkaian proses  panjang. Dari beberapa tahapan tersebut dilakukan ritual-ritual tertentu yang dipercaya sebagai roh untuk membangkitkan semangat dalam bekerja maupun untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Ini merupakan tradisi dan kebudayaan dari leluhur masyarakat suku Dayak Desa yang dilakuakan puluhan tahun silam. Puluhan bahkan ratusan motif pada kain tenun ikat Dayak berasal dari inspirasi, mimpi dan pengetahuan para leluhur yang mengandung makna begitu mendalam sebagai nasehat, petuah, pantangan, dan semangat dalam kehidupan keseharian.

tenun ikat-cepuk kuning-http://kainikat.com/

Bahan baku untuk mengasilkan kain tenun adalah benang  dan pewarna. Untuk mendapat benang dimulai dari menanam tumbuhan kapas yang ditanam di lading pada musim sesudah panen, selanjutnya diolah atau dipintal sendiri menjadi benang. Demikian juga pewarna berasal dari alam yaitu tumbuh-tumbuhan (daun, akar, batang, kulit, buah, umbi, biji, dll), maupun binatang (lemak ular sawa, labi-labi dan sebagainya).

Peralatan yang dipergunakan dibuat sendiri secara sederhana menggunakan bahan alam yang tersedia di lingkungan pemukiman dan menggunakan bahan yang berkualitas baik, yaitu dengan kayu ulin, rotan, dan bahan lain yang dipercayai berkualitas baik. Peralatan terdiri dari alat untuk memisahkan serat kapas dengan bijinya, alat memintal (gasing), alat membentang benang, dan alat menenun. Inilah rangkaian proses yang ditelusuri dalam menghasilkan suatu karya seni kain tenun ikat Dayak sebagai salah satu kekayaan budaya masyarakat Dayak khususnya dan bangsa Indonesia umumnya.

Tenun ikat adalah sebuah teknik menenun dimana pola kain dibuat dengan mengikat benang dengan benang penahan celup. Benang yang telah diikat ini dicelup berkali kali untuk memperoleh pola yang diinginkan. Benang yang telah berpola ini lalu ditenun. Teknik ikat disebut sebut sebagai teknik celup tertua di dunia. (Gillow, 1999) Pada dengan akhir tahun 1980-an kain tenun ikat sudah semakin sulit dijumpai. Banyak kain tua yang dijual kepada pembeli dari luar seiring dengan populernya kain ini di Eropa dan Amerika. Di lain pihak, penenun semakin sulit dijumpai di kampung-kampung. Orang-orang tua yang pintar menenun sudah semakin berkurang, dan keahliannya tidak diturunkan kepada generasi muda. Kain-kain tua hanya bisa dijumpai pada keluarga-keluarga yang masih menghargai kain sebagai warisan nenek moyang yang harus disimpan.

syal-http://kainikat.com/

Menghidupkan Kembali Tenun Ikat Dayak
Prihatin akan keadaan ini, pemerintah setempat dan individu (seperti Pastor Jacques Maessen) secara perlahan mulai membangun beberapa kegiatan kecil melibatkan beberapa orang atau keluarga yang masih mau dan tertarik untuk menghidupkan kembali kegiatan menenun. Berbagai pendekatan dilakukan, namun perkembangannya terasa lamban karena masyarakat tidak bisa menerima begitu saja arahan dari orang luar untuk mengubah kebiasaan atau pola hidup mereka.

Pada tahun 1999, beberapa organisasi non pemerintah (NGO) membangun kolaborasi (Yayasan KOBUS – PRCF/PRCF Indonesia – YSDK, atas dukungan Ford Foundation) dan mulai terlibat untuk menghidupkan kembali kegiatan menenun sebagai upaya alternatif untuk meningkatkan pendapatan keluarga, sekaligus untuk melestarikan seni budaya menenun itu sendiri. Upaya ini dibangun melalui suatu program yang dinamakan ”Restorasi Tenun Ikat Dayak”.
Setelah beberapa tahun kemudian, apa yang terjadi? Lain ulu’ lain parang, lain dulu lain sekarang. Sintang kini dikenal karena kain tenun ikatnya. Orang Sintang bangga mengkoleksi dan memakai kain tenun ikat, dan kain bermutu tinggi mudah ditemukan, semudah menemukan komunitas penenun yang begitu bergairah menenun di sela-sela kegiatan sehari-harinya. Bahkan pada tahun 2006 lembaga yang mewadahi kegiatan masyarakat ini, Koperasi Jasa Menenun Mandiri memperoleh penghargaan dari Menteri Perindustrian.

Sebelumnya, pada tahun 2002 program ini menjadi salah satu nara sumber pada Workshop on Best Practice Cases Studies of Regional Development Activities with Local Initiatives yang diorganisasikan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Center for Economic and Social Studies (Cess) di Pontianak, Kalimantan Barat.

bungan lentik-http://kainikat.com/

Program Pemberdayaan
Apa yang telah dicapai masyarakat Sintang ini tidaklah serta merta terjadi dalam waktu singkat. Pada tahap awal program ini, beberapa hal dicoba dipetakan, yakni (a) jumlah penenun, (b) sebaran penenun, (c) tingkat keahlian penenun, (d) produktivitas penenun, dan (e) pemasaran kain hasil tenunan. Mulanya tercatat sekitar 40-an orang penenun yang tersebar di lima kampung, yakni Ensaid Panjang, Baning Panjang, Ransi Panjang, Umin dan Menaung. Dari sekian banyak penenun tersebut, hanya belasan orang saja yang benar-benar ahli yang umumnya telah berumur di atas 45 tahun.

Ditemukan juga bahwa produktivitas penenun relatif rendah. Untuk membuat selembar kain pua, diperlukan waktu antara 6 sampai 12 bulan. Namun hal ini bukan disebabkan oleh keterampilan yang rendah, tetapi karena mereka hanya menenun di waktu senggang disela-sela kegiatan berladang. Disamping itu ada juga aturan tidak tertulis (tradisi oral) yang mengatur penenun dan kegiatan menenun. Sementara itu pemasaran hampir tidak dikenal karena kain tenun ini memang bukan untuk dijual melainkan untuk dipakai pada upacara atau pesta adat. Kain baru dijual kalau ada pembeli atau pengumpul yang datang ke kampung.

Para penenun yang teridentifikasi ini mulai dimotivasi melalui pembelajaran kritis untuk memberdayakan diri mereka. Mereka diajak memahami permasalahan yang dihadapi, dan menggali potensi yang mereka miliki, hingga akhirnya pada tahun 2000 masyarakat sepakat untuk berhimpun dalam kelompok yang dinamakan Kelompok Usaha Bersama Jasa Menenun Mandiri (KUBJMM).

Berbagai penguatan diberikan kepada pengurus dan anggota KUBJMM ini. Para pengurus dan wakil-wakil anggota di setiap kampung dibekali dengan pengetahun manajemen, pembukuan, dan fasilitas untuk menjalankan kegiatan simpan-pinjam dan pembelianpemasaran kain tenun ikat. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pada tahun 2001 kelompok ini diubah menjadi berbadan hukum Koperasi.

sejadah-ukir bunga-http://kainikat.com/

Koperasi JMM ini terus berkembang. Pada akhir Januari 2006, anggotanya telah mencapai 524 orang yang tersebar di 20 kampung, dengan asset per 31 Desember 2005 sebesar Rp302.899.781,00. Koperasi ini semua pengurusnya terdiri dari kaum perempuan, dan anggotanya 98% (515 orang) adalah kaum perempuan. Jadi bisa dibayangkan aktivitas para perempuan penenun di Sintang ini, mereka tidak saja bekerja di rumah, di ladang, dan di kebun, tetapi saat ini dengan segala keterbatasannya, mereka telah mengorganisasikan diri dan menghasilkan sesuatu yang berarti. Kain tenun ikat yang mereka hasilkan tidak saja telah memberdayakan mereka secara ekonomi, tetapi juga telah menghidupkan dan melestarikan seni budaya tenun ikat Dayak itu sendiri.

Sepintas warna dan motif kain tenun ini hampir sama dengan tenun Dayak Iban yang berasal dari daerah Kapuas Hulu di Kalimantan Barat. Namun bila diperhatikan dengan teliti, ternyata kain tenun yang dominan dengan warna hitam dan merah ini adalah tenun Sintang yang dibuat para perajin di daerah Sintang. Produk ini tergolong tenun ikat tradisional, yang hampir sama dengan tenun Dayak Iban. Bedanya, tenun Iban memiliki desain motif yang cenderung figuratif atau jelas.

“Misalnya menggambarkan orang, ya jelas seperti orang, bila gambarnya buaya, jelas seperti buaya. Sementara tenun Sintang cenderung agak abstrak, ” jelas Imanul Huda dari PT People, Resources, and Conservation Foundation (PRCF). Tenun ada dua jenis, masing-masing adalah pua kumbu karena digunakan sebagai kumbu (selimut) atau dipakai untuk menutupi badan. dan kain kebat atau tating yang digunakan sebagai rok.

tas mungil-tenun ikat-http://kainikat.com/

“Kadang dipasang aksen kerincing di tepinya sehingga bila dipakai saat menari pada acara-acara adat, bisa bermunyi gemerincing!” ucap Imanul. Untuk kain yang digunakan pada acara adat terdapat motif-motif tertentu yang biasa dikenakan para bangsawan. Ada yang dinamakan motif kelangka, yang menggambarkan kijang, manusia, ikan, dan masih banyak lagi. “Tapi saat ini, hampir semua motif bisa dipakai oleh masyarakat biasa,” tutur pendamping perajin tenun di Sintang ini.

Menurut Imanul, tenun ikat khas Dayak sekadar produk sambilan sambilan kaum perempuan Dayak yang tinggal di kampung-kampung sekitar hutan maupun di rumah betang (tradisional) mereka. Dengan alat tenun tradisional (gedokan), mereka biasa mengerjakannya saat istirahat setelah bekerja dari ladang atau malam hari. Gedokan yang bisa dibawa ke mana-mana, terdiri dari bagian-bagian hat, keletak, beliak dan kelungan.

Imanul menjelaskan bahwa untuk menjadi selembar kain berukuran kebat atau tating, (seukuran taplak meja), umumnya dapat diselesaikan dalam jangka waktu satu bulan. Tetapi jika dilakukan intensif bisa selesai dalam dua minggu. Lain halnya dengan kain yang berukuran kumbu (seukuran selimut), bisa memakan waktu hingga enam bulan, meski cukup dua bulan jika dikerjakan secara intensif.

Lamanya waktu pengerjaan ini dikarenakan rangkaian prosesnya memang begitu panjang. Proses itu antara lain, penyiapan bahan baku, merentang benang, membuat motif, mewarnai benang dengan pewarna alam atau pewarna sintetis, menenun, kemudian menjualnya. Apalagi ketika pengerjaannya sekadar sambilan di kala senggang. Bahan baku utama tenun Sintang adalah benang katun dengan pilihan warna dominan merah dan hitam.

tas mungil-tenun ikat-http://kainikat.com/

Ciri khas bahan dan warna ini sama dengan tenun Iban, hanya saja pemintalan benangnya yang berbeda. “Kalau tenun Iban benangnya bisa lapis tiga, sedangkan tenun Sintang hanya lapis satu atau dua saja sehingga kainnya lebih lembut,” terang Imanul. Pembentukan motif dilakukan ketika benang mulai dibentang pada alat tenun, kemudian mulai dibuat pola motif dengan cara digambar.

Hasil tenunan perajin di Sintang dipasarkan dengan harga yang bervariasi, dari sekitar dari Rp 100.000,- sampai Rp 150.000,-. Namun untuk kain yang memiliki permainan motif yang beragam harganya bisa mencapai Rp 500.000,- hingga jutaan rupiah. Menurut Imanul, salah satu alasan perajin menjadikannya pekerjaan sambilan, karena daya serap pasar masih rendah. Untuk itu, LSM lokal yang bernama PT. PRCF Indonesia membuat program terpadu bertajuk “Festival Tenun Ikat Dayak”.

Anda tertarik untuk ikut serta melestarikan budaya sekaligus gaya dan gaul dengan tenun ikat? langsung pesan gan…….selagi stock masih ada……..keep spirit and do the best

Tenun Ikat Dayak Sintang Kalbar

September 17, 2010 Tinggalkan komentar

tenun ikat bulir padi merah putih

KITA mengenal begitu banyak ragam tenun di Indonesia, namun ada kain tenun yang sudah mulai langka di temukan di nusantara ini. Adalah kain tenun ikat dari Suku Dayak di Kalimantan (Borneo), kain tenun ikat tersebut, termasuk tenun ikat Dayak yang banyak digemari masyarakat manca negara.

Di Kalimantan Barat (West Borneo) saja misalnya, kain tenun ikat Dayak hanya ditemukan di Kabupaten Sintang dan Kapuas Hulu lagi. Padahal dulunya kain tenun ikat Dayak ini hampir dikenal masyarakat di seluruh Kalbar. Pada masa lalu, usai berladang, kala santai, menenun menjadi salah satu kegiatan yang dapat membunuh rasa bosan serta menghasilkan uang. Sehingga, banyak kaum wanita Dayak yang melakukannya. Mereka juga belajar secara autodidak.

setelan dari tenun ikat dayak-sintang

Suku Dayak menggunakan gedok sebagai sarana mereka untuk menenun. Satu bulan merupakan waktu yang biasanya mereka butuhkan untuk menyelesaikan selembar kain tenun. Namun, jika dilakukan secara insentif, cukup hanya dua minggu.  Seperti kain tenun lainnya, tenun ikat Dayak butuh waktu pengerjaan yang cukup lama. Mulai pemintalan benang pewarnaan, memasukkannya satu per satu ke alat yang dinamakan gedo, sampai dengan pencipta motif. Namun, proses panjang tesebut membuahkan hasil yang memuaskan pula. Tenun ikat suku Dayak mampu menembus pasar Eropa. Harga yang terbilang cukup murah, sekitar Rp.750.000 semakin memanjakan penggemarnya. Tapi sangat disayangkan, keberadaannya kini kian langka. Agar tetap ada, tugas wanita muda Dayaklah untuk mempertahankan tenun ikat Dayak tersebut agar tetap ada.

Sementara untuk pasaran lokal harga tenun ikat ini bervariasi mulai dari Rp 25.000 sampai seratus ribuan, tergantung besar dan tingkat kerumitan pengerjaannya. misalnya scraf dan selendang dapat dibeli dengan harga yang relatif murah kengan kualitas bagus.

tenun ikat motif reftil

memiliki kain tenun ikat dayak mempunyai kebanggan tersendiri, yaitu kita turut berpartisipasi mempertahankan warisan budaya yang hampir punah. Disamping itu orang yang memakainya terkesan elegan dan berkelas. Dari sekian banyak hal yang menarik dari kain tenun ikat ini adalh proses pewarnaannya dengan menggunakan bahan alami. Jadi tenun ikat benar-benar dibuat dengan tangan dan melalui proses alami dengan mencampur bahan alam kedalamnya. Adapun proses

Pewarnaan

proses pewarnaan

I. Proses Perminyakan (Mordan)
A. Bahan Ngaos
1. Benang
2. Buah Kepayang,
3. Buah gaus,
4. Buah Tengka,
5. Buah Kelampai
6. Buah Kemiri (bisa untuk ganti kenuling)
7. Biji mentimun
8. Buah Kenuling
9. Biji labu
10. Kunyit
11. Keramas (air daging buah kelapa yang dibusukkan)
12. Minyak ikan (semua bisa)
13. Minyak Biawak
14. Minyak ayam.
15. Minyak Labi-labi

Catatan :
Jika menggunankan minyak  ular harus mampu  menjaganya sampai sehari semalan tidak tidur, kalau tidak mampu bisa membuat kita sakit dan ahkan meninggal dunia (matah ke semengat). Untuk jenis minyak ikan, sawak,biawak,ayam da n labi-labi tidak boleh digongseng dan dimasukkan ke dalam botol dan dicampur dengan garam sedikit serta harus ditutup dengan rapat supaya tidak dihinggapi lalat dan ulat. Untuk bahan  minyak makin lamadisimpan makin baik digunakan.

B. Cara Ngaos
Sebelum benang dingaos harus dinasi (diolesi dengan nasi yang ditumbuk halus dengan tujuan untuk membuka serat  benang). Benang yang sudah diuluayan disusun kembali dan diterikkan pada tiang  untuk memoleskan nasi yang sudah ditumbuk dihaluskan. Setelah benang diolesi dengan nasi, pertama dikikis dengan  parang (gunakan bagian yang tumpul), setelah itu baru  dikikis kembali dengan menggunakan sabut kelapa sampai tidak ada gumpalan-gumpalan nasi pada benang dan kemudian dibiarkan satu hari satu malam (sampai kering benar).
Setelah proses nasi selesai dilanjutkan dengan perendaman benang pada air abu dapur  yang sudah disaring selama semalam.

proses pewarnaan

Bahan yang berasal dari biji-bijian / buah-buahan harus ditumbuk sampai  halus (dipisah masing-masing jenis). Setelah semua dihaluskan baru dimasak bersama-sama (dicampur). Pada saat pencampuran harus rata dan minyak-minyak tadi harus hancur. Air yang ditambahkan tidak boleh terlalu banyak. Oleh sebab itu air keramas harus banyak dan harus mampu merendam jumlah benang yang dingaos.

Setelah semua jenis minyak ikan hancur, harus didingikan dulu , supaya  lebih enak pada saat menginjakkya (mengaduknya). Pada saat ngaos harus ada yang berpakain adat (ngantak) dan tidak boleh lupa adalah bunga sebagai simbol kehidupan manusia.  Pada saat menunggu benang yang sudah dingaos biasany dilakukan dengan cara bekanduk (cerita rakyat) dan Bekana.
Setelah benang direndam sehari semalam benang diangkat,benang diangkat. Pada siang hari benag harus ditaruh dirumah dan jangan lupa siput laki, bekicot tebelian , kencur, bulu landak  dan kunyit.  Saat  malam hari benang dibawa dariluar rumah  untuk diembunkan. Pada saat pagi hari sekita jam . 05 pagi. Setelah tiga  hari baru dibawa  ke sungai untuk dicuci, kemudian baru bisa dicuci  lagi ke sungai,  waktu penjemuran antar jam 20.00 – 05 .00. orang jaman dahulu selama bertahun-tahun disimpa dan tidak ada satupun yang ganggu. Supaya benang tidak dimakan oleh binatang,  buah tengka  dan kepayang harus sedikit lebih banyak  sebab mengandung racun.

II. Proses Pewarnaan Merah (Mengkudu)
Cara Dingin
A. Bahan

1. Benang yang sudah dingaos

tenun ikat dengan warna merah dan hitam

2. Kulit Akar mengkudu
3. Daun Emarik Gugur
4. Air

B. Proses Celup
1. Kulit akar mengkudu ditumbuk sampai halus.
2. Masukkan ke dalam ember yang sudah berisi air, diremas-remas ampasnya dan kemudian
ditumbuk  lagi (ini dapat diulang sampai tiga kali, setelah selesai ampasnya dibuang).
4. Tumbuk daun emarik sampai halus.
5. Masukkan serbuk daun emarik ke dalam ember yang telah berisi air perasan mengkudu, dan  diaduk sampai rata.
6. Benang yang sudah dingaos dimasukkan kedalam campuran tadi, diremas-remas dan dikucek-
kucek sampai merata ke dalam benang.
7. Direndam selama 24 jam (1 hari), kemudian dibalik dan diremdam lagi selama 24 jam lagi.
8. Benang diangkat dan dijemur sampai kering, sisa celup dibuang karena tidak mengandung warna  lagi.
9. Kalau warna masih kurang baik dapat dilulagi lagi sesuai dengan cara di atas sampai dapat
warna yang diinginkan.

Cara Panas

A.  Bahan
1. Benang yang sudah digaos
2. Kulit Akar Mengkudu kering atau basah
3. Kulit Jangau
4. Kapur sirih
5. Daun Gambir

B. Proses Pewarnaan.
1. Bersihkan dan Kupas  kulit akar mengkud dan kulit jangau.
2. Jemur sampai kering dan kemudian ditumbuk halus.
3. Siapkan air panas mendidih secukupnya.
4. Campur serbuk mengkudu dan jangau dengan perbandingan 3 genggam mengkudu: 1
genggam jangau : 3  gayung air  panas untuk 1 buah ukuran kumbu.
5. Setelah itu masukkan benang yang sudah digaos ke dalam larutan tadi  (dibolak-balik)sampai  rata.
6. Jemur campuran tadi pada panas  matahari sampai air  kering (pada malam hari diangkat,  dan
pada hari berikutnyanya dijemur lagi).
7. Pengulangan proses di atas biasanya dilakukan 3-5 kali sampai mendapatkan warna merah yang bagus.

catatan :
Kalau kulit mengkudu  basah harus lebih banyak

III. WARNA HITAM (TARUM)

tenun ikat hitam dengan kombinasi marun

A. Bahan
1. Daun tarum tua
2. Kapur sirih
3. Benang  ukuran 1 kumbu  yang sudah dimengkudu  (warna merah )

B. Proses:
1. Daun tarum masak sampai air keluar asap (sebelum mendidih) sampai  daun bewarna hitam
atau biru, baru diangkat
2. Daun tarum  dicampur dengan sedikit kapur lalu digosok-gosok sampai warna air menjadi hitam.
3. Masukkan benang ke dalam air berulang-ulang sampai mendapatkan warna yang baik
(biasanya sampai tujuh kali ulangan).

Bahan :
1. Benang yang sudah dingaos
2. Kunyit
3. Kulit kayu gandis
4. Air

Proses
1. Haluskan kunyit dengan cara diparut atau  ditumbuk
2. Iris kulit kayu gandis setipis mungkin
3. Masukkan kunyit dan kulit kayu gandis yang  sudah dihaluskan ke dalam panci yang
sudah  berisi air, kemudian diaduk dan masak sampai  mendidih.
4. Setelah masak masukkan benang dan biarkan  mendidih sekitar 20 menit
5. Angkat dan jemur benang.

Nah setelah mengenal tenun ikat dayak sintang anda dapat menilainya sendiri. cukup menarik dan unik bukan?…..anda tertarik…..silakan berbelanja, gak perlu mahal anda sudah dapat memiliki salah satu keunikan dari tenun ikat seperti di atas…….

%d blogger menyukai ini: